MENPORA




SAKTI MASIH HIDUP

NAMUN MULUTKU SAKIT

MERDEKA UNTUK KITA SSEMUA...

SAKIIT INI HANYALAH BUAIAN

PACAR KITA DIRENGGUT MAUT

ADAKAH KEADILAN UNTUK

MU..


AKU HIDUP, KATANYA

SELENDANG YANG BAGUS 

TIDAK ADA BUNYI

HITLER AKAN KEMBALI

SEPERTI SELONGSONG PELURU YAG MENEMBUS KEPALA

RASAKAN WAHAI PERAWANKU

RASA SAKIT ITU HANYALAH

AKU YANG SEMENTARA,


OLAH

ALIH

OLAH

 ASIH

Share:

Symbol is culture comunication

doc picture : pixabay.com


Bahasa tubuh merupakan aspek penting dalam komunikasi manusia. Meskipun kata-kata yang diucapkan memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan bahasa tubuh secara keseluruhan juga memberikan informasi yang signifikan. Bahasa tubuh dapat mempengaruhi komunikasi secara beragam, termasuk:

1. Ekspresi wajah: Ekspresi wajah seperti senyum, tegang, terkejut, atau sedih dapat membantu mengungkapkan emosi dan memperjelas pesan yang disampaikan. Ekspresi wajah yang sesuai dengan konteks komunikasi dapat membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan antara pembicara dan pendengar.

2. Kontak mata: Kontak mata yang baik menunjukkan ketertarikan dan keterlibatan dalam percakapan. Dengan mempertahankan kontak mata, seseorang menunjukkan bahwa mereka memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Hal ini dapat membantu membangun rasa saling percaya dan menunjukkan ketulusan dalam komunikasi.

3. Postur tubuh: Postur tubuh seseorang dapat mengungkapkan kepercayaan diri, kecemasan, atau ketertarikan. Misalnya, seseorang yang berdiri tegak dan memiliki postur tubuh yang terbuka biasanya terlihat lebih percaya diri daripada seseorang yang cenderung membungkuk dan memiliki postur tubuh tertutup.

4. Gerakan tangan dan gestur: Menggunakan gerakan tangan dan gestur secara tepat dapat membantu menjelaskan dan mengilustrasikan pesan yang disampaikan. Misalnya, mengangkat jari telunjuk untuk menunjukkan penekanan pada suatu poin atau menggelengkan kepala sebagai tanda ketidaksetujuan.

5. Jarak fisik: Jarak fisik antara pembicara dan pendengar juga dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak yang terlalu dekat atau terlalu jauh dapat memberikan pesan yang tidak diinginkan. Misalnya, jarak yang terlalu dekat dapat dianggap sebagai invasi privasi, sementara jarak yang terlalu jauh dapat mencerminkan ketidakpedulian atau ketertarikan yang rendah.

6. Sentuhan: Sentuhan fisik seperti jabatan tangan atau pelukan dapat menjadi bentuk komunikasi nonverbal yang kuat. Sentuhan yang tepat dapat menyampaikan empati, dukungan, atau keakraban antara individu, namun penting untuk memperhatikan konteks budaya dan batasan personal dalam menggunakan sentuhan ini.

Penggunaan bahasa tubuh yang sesuai dan efektif dapat meningkatkan pemahaman, memperkuat hubungan, dan mencegah kesalahpahaman dalam komunikasi. Penting bagi individu untuk memahami pentingnya bahasa tubuh dan bagaimana memanfaatkannya secara efektif dalam berbagai situasi komunikasi.

Keindahan alam yang seimbang dengan penikmatnya dapat terjadi ketika seseorang menghargai dan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam serta merasakan kedamaian dan keindahan yang ditawarkan oleh alam. Berikut adalah beberapa contoh situasi yang menggambarkan keindahan alam yang seimbang dengan penikmatnya:

1. Mendaki gunung: Saat seseorang mendaki gunung, mereka dapat menghargai keindahan pemandangan alam yang mengelilingi mereka, termasuk lembah hijau, air terjun yang indah, dan langit biru. Dalam proses mendaki, penikmat alam juga harus menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan gunung dengan tidak meninggalkan sampah atau merusak tanaman dan hewan di sekitar.

2. Menikmati pantai: Di pantai, seseorang dapat merasakan keindahan pasir putih, ombak yang berirama, dan angin laut yang menyejukkan. Penikmat alam yang bijaksana akan memastikan bahwa mereka tidak merusak ekosistem pantai dengan tidak membuang sampah sembarangan atau mengganggu satwa liar seperti penyu yang berkembang biak di pantai.

3. Hiking di hutan: Saat melakukan hiking di hutan, seseorang dapat menyatu dengan alam dan menikmati keindahan pepohonan, aroma segar, dan suara binatang yang hidup di sana. Penting bagi penikmat alam untuk tidak merusak atau merusak lingkungan hutan, misalnya dengan tidak membakar atau merusak pohon-pohon.

4. Menjaga taman atau kebun: Seseorang yang memiliki taman atau kebun dapat menikmati keindahan alam melalui perawatan tanaman dan bunga yang mekar. Dengan memahami siklus alam, mereka dapat menjaga kebersihan taman, memanfaatkan air secara bijaksana, dan meminimalkan penggunaan pestisida yang berbahaya bagi lingkungan.

5. Mengunjungi taman nasional atau cagar alam: Ketika mengunjungi taman nasional atau cagar alam, seseorang dapat menikmati keindahan alam yang masih alami. Penting untuk mengikuti aturan dan panduan yang ditetapkan untuk melindungi flora, fauna, dan ekosistem di dalamnya, seperti tidak merusak atau mengambil bagian dari lingkungan tersebut.

Dalam semua kegiatan ini, penikmat alam yang bijaksana akan memahami bahwa mereka adalah bagian dari alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keindahan dan keseimbangan alam tersebut. Dengan mempertahankan keseimbangan antara manusia dan alam, keindahan alam dapat terus dinikmati oleh generasi saat ini dan masa depan.

Musik telah lama digunakan sebagai sarana ibadah dalam berbagai tradisi keagamaan di seluruh dunia. Penggunaan musik dalam konteks keagamaan dapat memiliki beberapa tujuan dan manfaat, antara lain:

1. Ekspresi spiritual: Musik dapat menjadi medium untuk mengekspresikan perasaan spiritual dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa. Melalui lirik dan melodi yang dipilih dengan bijaksana, musik dapat membantu individu merasakan kedekatan dengan Tuhan dan mengekspresikan iman, harapan, atau pengabdian mereka.

2. Pengangkatan dan penyembahan: Musik ibadah sering digunakan untuk mengangkat dan memuji Tuhan. Melodi yang indah, paduan suara, dan instrumen musik dapat menciptakan atmosfer yang membangun kekhusukan dan mengarahkan perhatian pada Tuhan. Musik juga dapat memperdalam rasa syukur, penghormatan, dan kesalehan dalam ibadah.

3. Pengajaran dan Pengingatan: Musik juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengajar ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai spiritual. Melalui lirik dan melodi, pesan-pesan penting dapat dengan mudah diingat dan disampaikan kepada jemaat atau komunitas keagamaan. Musik ibadah dapat membantu individu mempelajari dan memahami ajaran agama dengan cara yang menyenangkan dan menggugah emosi.

4. Penguatan dan penyatuan komunitas: Musik ibadah dapat memperkuat rasa persatuan dan komunitas dalam konteks keagamaan. Ketika jemaat atau komunitas beribadah bersama-sama melalui nyanyian dan musik, mereka merasakan ikatan yang erat dan solidaritas spiritual. Musik ibadah juga dapat memperkuat rasa kebersamaan dan saling dukung di antara anggota komunitas.

5. Pemulihan dan penghiburan: Musik juga dapat berperan dalam pemulihan dan penghiburan dalam konteks keagamaan. Dalam situasi kesedihan, kehilangan, atau kesusahan, musik ibadah dapat menyentuh hati dan memberikan penghiburan yang mendalam. Melodi yang penuh harapan dan pengharapan, serta lirik yang menguatkan iman, dapat membantu individu dalam proses penyembuhan dan ketenangan batin.

Penting untuk dicatat bahwa penggunaan musik dalam konteks ibadah bervariasi di setiap agama dan tradisi keagamaan. Norma-norma dan praktik-praktik yang mengatur penggunaan musik dalam ibadah mungkin berbeda antara satu agama dengan agama lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menghormati tradisi dan kepercayaan masing-masing dalam menggunakan musik sebagai sarana ibadah.

Human Error
Share:

HINDIA BELANDA HERITAGE

Doc : wirahadie.com


Hindia Belanda merujuk pada periode kolonial Belanda di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Indonesia. Pada artikel ini, kita akan menjelajahi sejarah Hindia Belanda dan dampaknya terhadap perkembangan sosial, politik, dan budaya di wilayah tersebut.


Hindia Belanda adalah nama yang diberikan kepada koloni Belanda di Asia Tenggara yang meliputi wilayah Indonesia modern. Kolonisasi Belanda di wilayah ini dimulai pada abad ke-17 dengan pembentukan Kompeni Hindia Timur Belanda (VOC). VOC mendirikan pos perdagangan di sepanjang pesisir dan menguasai perdagangan rempah-rempah yang meliputi rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan lada.


Seiring berjalannya waktu, VOC mengalami kebangkrutan dan pemerintah Belanda langsung mengambil alih kekuasaan di Hindia Belanda pada tahun 1800. Periode ini ditandai dengan penekanan ekonomi dan politik oleh pemerintah kolonial Belanda. Sistem tanam paksa diterapkan dengan memaksa petani pribumi untuk menanam komoditas ekspor seperti kopi, teh, dan indigo.


Selama abad ke-19, gerakan nasionalis muncul di Hindia Belanda yang berupaya melawan penjajahan Belanda dan memperjuangkan kemerdekaan. Gerakan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Diponegoro, Kartini, dan Sukarno. Mereka menentang penindasan sosial, budaya, dan politik oleh pemerintah kolonial Belanda.


Perang Dunia II mengubah dinamika di Hindia Belanda. Pendudukan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945 mengakhiri kekuasaan Belanda di wilayah tersebut. Meskipun penjajahan Jepang juga menyebabkan penderitaan bagi penduduk setempat, kejatuhan Jepang memberikan kesempatan bagi gerakan nasionalis untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.


Setelah kemerdekaan, Hindia Belanda menjadi Indonesia yang merdeka. Periode kolonial Belanda memberikan pengaruh yang mendalam terhadap berbagai aspek kehidupan di Indonesia, seperti sistem hukum, pendidikan, infrastruktur, dan ekonomi. Namun, kolonialisme juga menyebabkan ketimpangan sosial-ekonomi dan kerusakan budaya lokal.


Hingga saat ini, peninggalan Hindia Belanda dapat ditemukan di banyak aspek kehidupan di Indonesia. Warisan ini mencakup peninggalan arsitektur seperti gedung-gedung kolonial, pengaruh dalam bahasa Indonesia yang terdiri dari kata-kata serapan Belanda, dan berbagai elemen budaya seperti makanan, musik, dan olahraga yang terpengaruh oleh kehadiran Belanda.


Dalam konteks sejarah, Hindia Belanda memainkan peran penting dalam membentuk identitas nasional Indonesia dan memicu gerakan nasionalis yang berujung pada kemerdekaan. Meskipun penjajahan telah berakhir, pemahaman dan penelitian lebih lanjut tentang Hindia Belanda terus dilakukan untuk memahami dan menghargai masa lalu yang kompleks ini dan dampaknya pada masyarakat Indonesia.

Peninggalan Hindia Belanda di Indonesia mencakup berbagai aspek dalam kehidupan sosial, politik, budaya, dan infrastruktur. Berikut ini adalah beberapa contoh peninggalan tersebut:


1. Arsitektur Kolonial: Bangunan-bangunan kolonial Belanda masih dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Contohnya adalah Gedung Merdeka di Bandung, Kota Tua di Jakarta, Kota Lama di Semarang, dan Fort Rotterdam di Makassar. Gaya arsitektur kolonial Belanda mempengaruhi desain bangunan dengan ciri khas seperti kolom, veranda, dan atap tumpang.


2. Sistem Pendidikan: Sistem pendidikan modern di Indonesia berasal dari pendidikan yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Sekolah-sekolah Belanda didirikan untuk anak-anak bangsawan dan orang-orang terkemuka. Meskipun semula hanya ditujukan bagi kalangan tertentu, pendidikan ini kemudian berkembang dan mencakup semua tingkatan masyarakat.


3. Bahasa Indonesia: Bahasa Indonesia modern memiliki banyak kata serapan dari bahasa Belanda. Penjajahan Belanda membawa pengaruh signifikan dalam perkembangan bahasa Indonesia, seperti kosakata, istilah teknis, dan struktur gramatika. Meskipun demikian, bahasa Indonesia tetap memiliki karakteristik dan identitasnya sendiri.


4. Hukum dan Sistem Peradilan: Sistem hukum modern di Indonesia didasarkan pada sistem hukum Belanda. Asas-asas hukum dan lembaga-lembaga seperti pengadilan, polisi, dan peraturan hukum diadopsi dari hukum kolonial Belanda. Peninggalan ini membentuk dasar sistem hukum di Indonesia setelah kemerdekaan.


5. Infrastruktur dan Teknologi: Penjajahan Belanda juga meninggalkan jejak dalam infrastruktur dan teknologi di Indonesia. Contohnya adalah sistem transportasi seperti jalan raya, pelabuhan, dan kereta api. Perkembangan pertanian seperti perkebunan dan irigasi juga dipengaruhi oleh penjajahan Belanda.


6. Budaya dan Gaya Hidup: Beberapa aspek budaya dan gaya hidup di Indonesia dipengaruhi oleh penjajahan Belanda. Contohnya adalah makanan, seperti roti, kue, dan minuman seperti kopi dan teh. Gaya hidup, gaya berpakaian, dan tata cara makan juga terpengaruh oleh kehadiran Belanda.


Peninggalan Hindia Belanda di Indonesia mencerminkan kompleksitas sejarah dan perkembangan masyarakat Indonesia. Meskipun penjajahan telah berakhir, peninggalan tersebut terus mempengaruhi kehidupan dan memberikan pemahaman lebih dalam tentang sejarah dan identitas nasional Indonesia.

Share:

Tentang Sastra dan Mantra dalam kehidupan



Doc : PIXABAY

Sastra puisi lama dan mantra memiliki warisan yang kaya dalam berbagai budaya di seluruh dunia. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang keduanya:


1. Sastra Puisi Lama: Sastra puisi lama adalah bentuk puisi tradisional yang telah ada sejak zaman kuno. Contohnya termasuk puisi epik seperti "Iliad" dan "Odyssey" karya Homer, puisi klasik Tiongkok seperti "Shi Jing" (Buku Odes), puisi Sanskerta seperti "Mahabharata" dan "Ramayana", serta puisi klasik Arab seperti "Mu'allaqat" dan "Diwan al-Hamasa". Puisi lama sering kali menggambarkan tema-tema heroik, cinta, agama, dan alam semesta, dan menggunakan struktur dan gaya sastra yang khas, seperti penggunaan meter, rima, dan gaya bahasa yang kaya.


2. Mantra: Mantra adalah rangkaian kata atau kalimat tertentu yang diucapkan atau dilantunkan dengan tujuan khusus, seperti keagamaan, meditasi, penyembuhan, atau membangkitkan energi spiritual. Mantra umumnya berasal dari tradisi agama dan spiritual seperti Hinduisme, Buddhisme, dan tradisi suku-suku kuno. Pengucapan mantra dianggap memiliki kekuatan dan efek yang kuat, dan dapat membawa perubahan pada pikiran, energi, dan kesadaran seseorang. Mantra sering kali berisi kata-kata suci, nama-nama dewa, atau frasa yang berulang-ulang dalam upaya untuk mencapai pemusatan pikiran dan koneksi spiritual.


Keduanya, puisi lama dan mantra, adalah bentuk ekspresi sastra yang memiliki peran penting dalam budaya dan tradisi masyarakat di masa lalu. Mereka membawa nilai-nilai estetika, spiritualitas, dan kearifan yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan atau tertulis dengan gaya dan tujuan yang khas.

Puisi dan mantra memiliki perbedaan dalam aspek tujuan, fungsi, dan konteks penggunaannya. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara puisi dan mantra:


1. Tujuan dan Fungsi:

   - Puisi: Puisi secara umum dibuat untuk menyampaikan ekspresi estetika dan emosional. Puisi sering kali digunakan sebagai bentuk seni yang menggabungkan penggunaan bahasa yang kreatif dan imajinatif untuk mengungkapkan perasaan, pemikiran, atau pengalaman tertentu kepada pembaca atau pendengar.

   - Mantra: Mantra, di sisi lain, memiliki tujuan yang lebih praktis atau spiritual. Mantra digunakan sebagai alat untuk meditasi, penyembuhan, atau mencapai kesadaran spiritual. Melantunkan mantra secara teratur dianggap memiliki kekuatan dan energi yang dapat membawa perubahan dalam pikiran, energi, atau kesadaran seseorang.


2. Konteks Penggunaan:

   - Puisi: Puisi umumnya ditemukan dalam karya sastra dan merupakan bagian dari tradisi sastra dalam berbagai budaya. Puisi sering diterbitkan dalam buku, antologi, atau dipublikasikan di majalah dan situs web sastra. Mereka juga dibacakan dalam pertunjukan sastra atau diucapkan dalam acara-acara khusus.

   - Mantra: Mantra secara tradisional digunakan dalam konteks agama, spiritualitas, atau praktik meditasi. Mereka dilantunkan atau diucapkan secara berulang-ulang sebagai bagian dari ritual atau latihan spiritual. Mantra juga dapat digunakan dalam praktik penyembuhan alternatif atau praktik yoga.


3. Struktur dan Gaya Bahasa:

   - Puisi: Puisi memiliki keragaman dalam struktur dan gaya bahasa. Mereka bisa memiliki pengaturan yang bebas atau mengikuti pola meter atau rima tertentu. Puisi juga menggunakan perangkat gaya seperti metafora, aliterasi, atau imageri untuk menciptakan efek estetika yang khas.

   - Mantra: Mantra cenderung memiliki struktur yang lebih tetap dan pola pengucapan yang berulang. Kata-kata dalam mantra sering kali dikombinasikan dalam urutan tertentu yang dianggap memiliki kekuatan khusus. Dalam beberapa tradisi, pengucapan mantra dianggap penting untuk mempertahankan keotentikan dan kekuatan spiritualnya.

Meskipun ada perbedaan antara puisi dan mantra, penting untuk diingat bahwa batas antara keduanya tidak selalu tegas. Terdapat beberapa puisi yang memiliki elemen mantra, dan sebaliknya, beberapa mantra juga bisa memiliki keindahan dan ekspresi estetika dalam penggunaan bahasa mereka.


Share:

Sang pendaki

 



 

Malam yang gelap

Semilir angin

Pohon yang rindang

Menutupi awan

 

Malam yang gelap

semilir angin

pohon yang rindang

menutupi bulan

 

terdengar suara

gemuruh angin

terdengar suara

burung berkicau

 

malam gelap

 sangat mencekam

malam gelap

jadi kenangan

 

Share:

Lirik Lagu | Pergi

 

Doc: Pixabay.com


 

Walau hanya ada duka

Walau hanya ada cerita

Walau hanya ada luka

Walau hanya ada hampa

 

Walau hanya ada cinta

Walau hanya ada cerca

Walau hanya ada lupa

Walau hanya ada tawa

 

Ku melihat kamu

Pergi dengan senyuman

Kumelihat kamu

pergi dengan harapan

ku melihat kamu

pergi dengan tangisan

kumelihat kamu

pergi dengan kesunyian

Share:

Gadis kecil dengan bukan bonekanya

Doc : https://aufklarung.files.wordpress.com/2023


author : Siti Nur Aryani 

Gadis cilik itu beranjak cepat ke daun jendela yang terbuka saat terdengar mobil berhenti. Sambil satu kaki menapak di tulang jendela, kaki lain menginjak lengan kursi, bocah celingukan memperhatikan siapakah yang turun dari mobil. Maklum, keadaan sekitar halaman di seperempat malam itu tidak tersorot rembulan.

Ketika yang turun sosok bertubuh gempal berkaki empat berkulit coklat tua, bocah berteriak, "sapi..sapi..!" Namun teriakannya itu tercekat. Batal rasa girang begitu melintas pikiran kalau esok sapi akan disembelih. Gadis cilik segera ke kamar, berpura-pura lupa dengan apa yang baru dilihatnya. Bantal basah karena tangisnya.

Pagi sekali bocah harus menemani ibu ke pasar. Tidur memang telah melupakan sementara apa yang membuat gundah semalam. Tapi saat hendak turun ke halaman, duar! gadis cilik kaget. Tak mengira kalau dalam terang tubuh sapi ternyata sangat besar. Begitu pun sapi, kaget berpapasan wajah dengan bocah.

Sambil menunggu ibu menyetater motor, bocah berusaha mendekati sapi. Sapi bereaksi mundur, tak suka didekati. Merasakan getaran tubuh dan geraman ketaksukaan sapi, tidak menyurutkan bocah untuk mendekat. Bocah naik ke atas bangku yang bertengger di situ.

Perlahan ia ulurkan tangannya ke arah dahi sapi. Sapi melengos. Tidak menyerah, bocah terus mencoba sampai sapi merasa nyaman dibelai. Setelah sapi terlihat tenang, bocah lantas menyentuhkan kepalanya ke kepala sapi, cukup lama sambil mencium dan membelai-belai mata sapi yang besar.

Merasa cukup membelai, bocah minta ibu menunggunya sambil izin ke belakang. Saat kembali, bocah membawa seember penuh air. Berjalan menuju sapi, bocah tak peduli reaksi curiga sapi. Tapi belum juga ember sampai di depan mulut sapi, lidah sapi yang sedari tadi berbusa mengisyaratkan dahaga, menjulur-julur hendak menyusup air. Bocah terharu, sapi memang kehausan. Air di ember nyaris habis saat itu juga.

Bocah tahu dalam hitungan 12 jam lagi sapi akan disembelih. Dalam nurani, meski waktu sembelih tinggal 1 detik tetapi jika sapi menunjukkan kehausan, bocah tak akan berdiam diri tidak mengusahakan air minum untuknya.

Kejadian kontras muncul ketika esoknya ibu dan bocah berada di lapangan sholat ied. Lapangan tempat sholat selalu indah dengan kehadiran anak-anak. Salah satunya seorang anak tetangga tak henti memeluk boneka. Sebuah boneka sapi seukuran badan si anak. Di tengah khutbah, anak itu menangis tak kunjung berhenti. Rupanya si anak ketakutan melihat sapi yang bergerak-gerak tak jauh dari tempat duduk mereka.

Di zaman ketika kita membiarkan waktu bagi diri dan anak-anak kita tergerus di segenggam ponsel, dunia kelak justru semakin menyusahkan anak bila kita mencekoki mereka dengan mainan tiruan, seperti boneka atau tontonan manusia, tumbuhan, dan hewan cukup dari gambar atau tayangan di ponsel. Alih-alih memberikan pengalaman palsu dan nir-indera, anak sebaiknya diperkenalkan dengan piaraan hidup misalnya tumbuhan atau hewan, dan diajari tanggung jawab memeliharanya.

Ibu gadis kecil ini tahu dirinya belum bisa memaksakan pemahaman utuh mengenai pengertian kurban kepada anaknya. Mengapa hewan-hewan disembelih secara 'massal' dan serentak waktunya. Tetapi ibu ini tidak mau kehilangan kesempatan untuk meneladankan perbuatan merawat, memelihara, dan berbelas kasih terhadap sesama dan semua makhluk hidup sekitar kepada anaknya sedini mungkin.

Sepulang dari pasar, ibu kedatangan teman petani dari kampung seberang bukit. Pak petani datang untuk menjemput sapi di halaman rumah. Dia membawa dua bonggol petai dan tiga buah pepaya. Pak tani agak mengeluhkan berkurangnya hewan kurban tahun ini. Karenanya dia harus siap-siap dengan ulah nakal sekumpulan pemuda. Setiap iedul kurban, pak tani masih belum bisa mengatasi para pemuda itu yang sengaja menyembelih hewan terlarang sebagai protes jika mereka tidak kebagian pemberian daging.

Pak tani juga menyayangkan sikap sebagian besar tetangganya yang selalu mendahulukan pemberian kepada kelompoknya yang masih mampu dan cukup, bahkan sampai menelantarkan orang-orang yang justru benar-benar membutuhkan. Akibatnya, selalu saja ada kecemburuan sosial dari sebagian besar mereka. Kasus sekumpulan pemuda itu adalah contoh kasus ekstrem.

Ibu sengaja membiarkan anak gadis kecilnya yang sedang membantu mengisi cangkang ketupat, mendengarkan percakapan dirinya dan Pak Tani. Ibu membenak entah kapan gadis kecilnya memahami makna berkurban secara utuh. Untuk saat ini ibu berharap ada pengertian yang tertangkap anaknya, bahwa: anaknya telah menunjukkan belas kasih kepada sapi sebagai makhluk Allah. Dengan dikurbankan atas nama Allah sapi juga telah menjalankan tugasnya dengan baik yaitu menjadi sumber makanan yang baik dan toyib bagi manusia yang kurang dan tak mampu. Keserakahan menumpulkan empati terhadap orang lain. Kemiskinan pengetahuan paling sering merangsang iri dan kecemburuan.

Dari kisah teladan seorang ayah yaitu Nabi Ibrahim as yang hendak mengurbankan anak yang dicintainya, yakni Nabi Ismail as, ibu si bocah berharap seiring waktu anaknya juga memahami bahwa peristiwa kurban sebagai sikap melepaskan sesuatu yang dicintai semata demi ketaatan kepada Allah SWT sekaligus mewujudkan kebermanfaatan bagi orang-orang miskin. Dengan cinta kita merawat, memelihara, dan berbelas kasih. Dan demi cinta kita melepas apa yang telah dirawat, dipelihara, dan dibelaskasihi.*** 




  • URL https://aufklarung.wordpress.com/2023/07/02/gadis-kecil-dengan-bukan-bonekanya/
  • Portalkata Indonesia

Share: